iseng nih iseng, coba buat cerpen :Dbaca boleh.. numpang lewat juga silahkan.so, happy reading all :)Gelap dan senyum sang Dewi malam menambah satu keajaiban yang semakin larut. Jarum jam yang berkejaran menunjukan angka satu. Semilir angin malam kala itu menyibakan wajah Kitara yang sedari tadi berdiri di depan jendela. Dan tetes-tetes air matanya menari indah di pipinya yang terlihat pucat dan jatuh mengenai bibir jendela. Pelan–pelan ia melangkah menuju sudut kamar, ia duduk di kursi biru tempat yang biasa ia gunakan untuk bersua dengan hatinya. Tak jauh dari itu Ia meraih HP di meja dekat kursi tempat ia duduk kemudian ia menekan tombol yang tak asing baginya. Cukup lama Kitara menunggu jawaban.
“Ada apa Kit?” suara di seberang telepon. Namun Kitara tetap diam.“Kit, loe nggak ngigau kan telepon gue tengah malam gini?” ucap cowok itu.“Nat, Dega berubah!” jawab Kitara sambil sesenggukan.“Loe kenapa Kit? Gue ke rumah loe sekarang ya?” kata Natu khawatir.“Nggak perlu. Loe cukup dengerin gue aja. “ jawab Kitara.“Oke.”“Dega berubah Nat. Uda 3 minggu dia nggak telepon atau pun sms gue. Dan nomornya juga nggak aktif.” Tangis Kitara semakin pecah.“Udahlah. Mungkin Dega lagi sibuk.” Ucap Natu mencoba menenangkan Kitara.“Sibuk? Sesibuk apapun seenggaknya dia bisa kan sms gue. Nggak kayak gini? Sama sekali nggak ada kabar.” Kata Kitara kemudian diam. “Gue takut kehilangan dia.” Ucap nya lagi.“Loe nggak bakal kehilangan dia kok.” Jawab Natu tenang. Tak terasa air mata Natu ikut menetes. “Dan mungkin gue yang bakal kehilangan loe.” Batin Natu.“Tapi sekarang dia udah jauh dari gue.”“Kit, Loe nggak bakal jauh dari dia. Loe tetap pakai kalung yang dia kasih kan? Dia bilang itu hati Dega buat loe dan terus ada sama loe. Iya kan?”“Tapi gue...” kata-kata Kitara terputus.“Ssst. Bandung-Bali itu nggak jauh kok? Selama loe percaya sama dia, dia tetap jadi Dega milik loe. Dan intinya, loe percaya nggak sama dia?”“Gue ragu Nat. Mungkin kalau hanya 1 atau 2 minggu gue bakal percaya sama dia. Tapi kalau dia nerusin kuliah disana dan butuh waktu tahunan, gue sulit buat percaya sama dia. Gue nggak bisa LDR sama dia Nat. Loe ngerti nggak sih perasaan gue?”“Ragu berasal dari diri loe. Dan yang bisa ngalahin perasaan ragu loe sendiri.”“Tapi apa gue bisa?”“Gue yakin loe pasti bisa.”“Iya, gue harus percaya sama Dega.” Ucap Kitara semangat.“Gitu dong. Semangat! curhatnya udah kan? Gue mau tidur lagi nih, ganggu orang aja.”“sorry-sorry. Ya udah selamat malam?”“Udah mau pagi bego!” ejek Natu.“Iya-iya. Pagi!!” jawab Kitara ketus.Natu beranjak dari ranjangnya. Ia menuju jendela menatap kamar Kitara yang terletak tepat di depan kamarnya.“Tahu nggak Kit. Sakit loe sakit gue juga. Gue harap apapun yang terjadi, loe harus tetap tersenyum.” Ucap Natu pelan. Kemudian duduk di kursi meja belajarnya dan menulis apa yang bisa dia tulis di lembaran kertas. Itulah kesehariannya, hanya mampu mengabadikan perasaannya kepada Kitara di dalam bait-bait puisi yang ia tulis.Natu adalah sahabat Kitara sejak TK. Setelah kakak Kitara meninggal Natu yang selalu menjaga Kitara. Mereka seperti kakak dan adik. Sampai akhirnya datang Dega, cowok Kitara dari SMA yang juga teman lama Natu. Dan Natu percaya Dega dapat yang menggantikan posisi Natu sebagai penjaga setia Kitara. Namun ketika Dega harus meninggalkan Bandung dan tinggal di Bali untuk meneruskan kuliah. Sejak saat itu Kitara mulai ragu dan khawatir akan hubungannya dengan Dega. Sejak kepergian Dega Kini Natu lah yang selalu memberikan semangat. Tak jarang Natu menemani Kitara menangis walaupun akhirnya Natu juga yang akan menangis.***1 minggu kemudian.Sepulang sekolah Kitara berniat membeli buku, tanpa teman ia berangkat menuju toko buku di antar sopir pribadinya. Selang beberapa menit kemudian ia menemukan buku yang ia cari, komik jepang yang terbit setiap bulan menjadi langganannya. Setelah membayar buku, ia melangkahkan kaki menuju sebuah kafe yang menjadi tempat favoritnya dan Natu. Ia memesan beberapa kue dan es krim untuk Natu. Sementara menunggu pesanannya di bungkus, pandangannya tersingkap pada sebuah meja sepasang pembeli. Ia merasa mengenal orang duduk disana.“Dega.” Ucapnya lirih.Seperti ada chemistry, Dega tiba-tiba menatap Kitara. Sepertinya dia juga merasa kaget. Kemudian dia meninggalkan wanita yang ada di sebelahnya dan melangkah menuju tempat Kitara. Kitara hanya diam, ia tak kuasa melihat orang yang berarti dalam hidupnya kini duduk bersama orang lain.“Apa kabar Kit?” ucap Dega.“Ngapain kamu disini? Bukannya kamu ada di Bali untuk kuliah disana” tanya Kitara.“Maaf kit. Sebenarnya aku nggak jadi kuliah disana.”“Terus kenapa selama ini kamu nggak pernah hubungi aku dan...... siapa wanita itu?”“Maaf sebelumnya, aku akan jelasin kenapa selama ini aku nggak pernah hubungin kamu.” Dega mwenarik nafas panjang, kemudian ia melanjutkan ucapannya. “Kamu tahu cewek yang ada di sana, dia orang yang selama ini aku cari dan akhirnya aku ketemu dia di Bali. Setelah tahu dia bakal kuliah di Bandung aku mutusin buat balik lagi kuliah di Bandung.”“Apa dia berarti banget buat kamu?”“Iya. Dia mantanku namanya Sivia dan aku pernah cerita kan sebelumnya, Sivia cinta pertama aku. Pasti kamu ngertikan gimana rasa sayang kita kepada orang yang pertama kalinya ada dalam hati kita. Aku sayang banget sama dia walaupaun dia pernah ninggalin aku. Dan karena dia, aku bisa merasakan apa itu sebuah cinta.” Kata Dega panjang lebar. Mendengar itu hati Kitara semakin perih.“Apa saat ini kamu juga masih sayang sama dia?” tanya Kitara.“Iya” jawab Dega pasti.“Oke aku bisa ngerti, ini kalung yang pernah kamu beri untukku. Sekarang aku minta kamu ungkapin perasaan kamu sama cewek itu. Tapi aku minta jaga dia dan jangan pernah sakitin dia.” Ucap Kitara dengan melepas kalung yang ia kenakan.“Terus hubungan kita?”“Kita tetap berteman, aku balik dulu ya?” jawab Kitara dengan suara yang sedikit di paksakan.Setelah membayar pesanannya ia keluar dari kafe dan menuju parkir dengan tertunduk. Sedangkan Dega hanya berdiri mematung menatap kepergian Kitara. Kitara melangkah dengan gontai, hatinya pilu melihat sikap Dega yang menurutnya egois. Berkali-kali ia mengutuk dirinya sendiri karena kebodohannya merelakan seseorang yang sangat di cintainya untuk orang lain. Dan berkali-kali pula ia melapangkan dada dan mencoba positif thinking. Ia meninggalkan mall dan pergi ke rumah Natu.Sesampainya di rumah Natu.Langit kemerahan menambah suasana haru antara Natu dan Kitara.“Loe kenapa Kit?” tanya Natu kepada Kitara yang tiba-tiba datang ke rumahnya dan memeluknya erat. Kitara tetap diam. Hanya tetes-tetes air mata yang mampu menjelaskan bahwa ia sekarang sedang terluka.“Loe jangan buat gue tambah bingung. Ada apa sebenarnya?” Tanya Natu.“Dega bohong sama gue.” Jawab Kitara dengan sesenggukan.“Bohong??”“Tadi gue ketemu sama dia di kafe, dia lagi sama cewek. Di situ dia cerita sama gue. Dia bilang sebenarnya dia nggak akan nerusin kuliah di Bali. Dan dia cuma 2 minggu di Bali buat liburan.”“Apa? Terus Cewek itu siapa?”“Dia mantannya? dan hari ini dia bakal nembak balik itu cewek.” Suara Kitara semakin pelan.“Gila tuh anak. Di kafe mana dia?” emosi Natu semakin memuncak.“Udah nggak perlu. Gue yang nyuruh nembak balik mantannya.” Jawab Kitara dengan tertunduk.“Gue nggak ngerti jalan pikiran loe. Sebenarnya apa sih mau loe Kit?”“Gue cuma pengen Dega bahagia, itu aja.” Suara Kitara semakin serak.“Walaupun akhirnya loe harus nangis kayak gini. Sadar nggak sih loe, apa yang loe lakuin itu bakal nyakitin perasaan loe sendiri.” Natu kembali memeluk erat tubuh Kitara. Dalam hati Natu sebenarnya juga merasakan apa yang di rasakan Kitara saat itu.“Gue tahu. Tapi cuma itu yang bisa gue lakuin buat dia. Dan kalau pun gue maksain dia buat tetap cinta sama gue, itu nggak adil buat dia. Gue nggak boleh egois. Gue akan ngelakuin apa yang terbaik buat dia.” Tangis Kitara semakin pecah. Mendengar ucapan Kitara, Natu hanya diam. Dia tidak menyangka Kitara yang selama ini ia anggap kekanak-kanakan lebih mengenal arti pengorbanan.“Kalung loe mana?” tanya Natu setelah sadar bahwa Kitara tidak memakai kalung pemberian Dega.“Udah gue balikin tadi.” Jawa Kitara.Natu menghela nafas panjang. “Gue ngerti apa yang loe rasain sekarang Kit. Perasaan kita sama, tapi gue janji bakal buat loe tersenyum lagi.” Batin Natu.***Hari berganti hari, kekosongan hati Kitara mulai terisi dengan canda Natu, tugas Natu sebagai penjaga setia bagi Kitara kini berlaku kembali. Dan berkat Natu pula Kitara yang dulu pendiam dan tertutup kini menjadi sosok yang periang. Ia mulai bangkit dari keterpurukan akan kenangan tentang Dega.Suatu hari Natu berniat menyatakan perasaan yang lebih dari 3 tahun ia pendam kepada Kitara. Ia telah mempersiapkannya seminggu sebelumnya. Mulai dari dekorasi tempat hingga kata- kata yang akan ia katakan kepada pujaan hatinya. Ia memilih taman dekat kompleks untuk menyatakan perasaanya. Tempat yang penuh dengan kenangan masa kecil bersama Kitara. Setelah ia rasa persiapannya telah usai, Natu mengirim sms.“Gue tunggu di Taman Merpati sore ini.”Satu jam sebelum Kitara datang, Natu sudah berdiri di bawah pohon beringin. Dengan perasaan gundah ia mondar-mandir menunggu kedatangan Kitara. Selang beberapa menit Kitara datang dengan senyum berseri. Entah apa yang membuatnya begitu bersemangat. Melihat Natu sudah menunggunya, Kitara mempecepat langkah kakinya. Semakin cepat langkah kaki Kitara membuat degup jantung Natu berdetak melebihi normal. Ia merasakan gugup teramat sangat yang memberikan efek berkeringat dingin.“Kenapa tangan loe dingin banget?” tanya Kitara dengan memenggang tangan Natu.“Yang jelas kelamaan nunggu loe.” Jawab Natu judes dengan menghempaskan tangan Kitara.“Kemana aja sih loe. Liat dong udah berapa menit loe telat.” Tanya Natu lagi sambil melihat jam tangannya. Namun Kitara tak langsung menjawab hanya senyum berseri yang ia berikan.“Gue tanya loe dari mana? Malah senyum-senyum sendiri kayak orang gila.” Kata Natu sewot.“Gue... gue... habis ketemu sama Dega dan ntar malam gue bakal dinner sama dia.” Jawab Kitara berseri.Mendengar jawaban Kitara, Natu hanya diam. Mungkin mulut bahkan hatinya tak mampu mengungkapkan kata-kata. Hatinya teriris, perih. Kadang hal yang di harapkan berbenturan dengan kenyataan, orang menganggapnya itu adalah sebuah takdir dan mungkin yang ia sadari saat ini takdir Natu adalah sebagai sahabat Kitara. Kitara seorang gadis impian Natu kini akan kembali menjadi gadis impiannya.“Apa mungkin Dega mau ngajak gue balikan ya?” ucap Kitara. Natu tetap tidak bisa berkata apa pun. Dan akhirnya ia memeluk Kitara. Hatinya kini menangis dengan memeluk Kitara. Cukup lama mereka berpelukan dengan perasaan masing-masing. Kemudian Kitara melepaskan pelukan Natu.“Tadi loe minta gue datang kesini, buat apa?” tanya Kitara.“Nggak, nggak ada yang penting. Cuma iseng doang. Mending loe sekarang pulang persiapin diri buat ntar malam.” Jawab Natu dengan perasaan sedih.“Dasar. Oke deh gue balik dulu ya?” kemudian Kitara melangkah pergi. Natu hanya diam menatap kosong kepergian Kitara.“Gue benci sama Dega.” Bisik Natu.Ia tak beranjak dari tempat itu. Dia tetap duduk di bawah pohon beringin sambil memberi makan puluhan merpati di sekitar taman. Seakan langit mengerti apa yang di rasakan Natu, hujan turun dengan derasnya. Merpati-merpati itupun pergi meninggalkannya. Sekarang ia benar-benar sendiri. Dengan duduk tertunduk, tetesan airmata jatuh dari matanya. Ini kesekian kalinya ia menangis karena Kitara.Meskipun hujan, Kitara tetap pergi untuk menemui Dega. Walaupun sebelumnya ia tidak janji untuk datang di acara dinner ini. Karena kena macet di jalan, Kitara telat 45 menit dari janji mereka.“Semoga Dega masih nungguin gue.” Bisik Kitara. Dengan tergesa ia menuju kafe yang Dega bilang. Namun sebelumnya ia menuju ke toilet untuk membenahi diri. Setelah siap ia menemui Dega. Tanpa di sangka, Dega sudah duduk dengan wanita lain. Dengan mesra Dega mencium tangan wanita itu. Hatinya benar-benar sakit. Dengan perasaan kesal, ia mendatangi meja Dega. Spontan Kitara menyiram wajah Dega dengan air.“Thank’s buat undangan dinnernya.” Ucap Kitara langsung meninggalkan kafe.Dengan perasaan yang tidak karuan meninggalkan kafe. Kitara merakan sakit yang termat sangat, ia terkecewakan kedua kalinya dengan orang yang sama. Ia teringat kepada Natu akhirnya ia memutuskan untuk ke rumah Natu.Sesampainya di rumah Natu, Ia tak menemukan Natu. Hanya mama Natu yang ia temui.“Tante, Natu kemana ya?” Tanya Kitara.“Bukanya dia nungguin kamu di Taman Merpati.” Jawab mama Natu.“Jadi sampai sekarang dia belum pulang?”“Kayaknya belum tuh Kit, dari tadi tante juga nggak ketemu sama Natu. Coba aja ke kamarnya.”“Saya tante.” Tanya Kitara bingung.“Ya iyalah.”“Tapi tante, nanti Natu marah lho.”“Nggak apa-apa deh, masa udah segede gini Natu masih marah Cuma gara-gara kamu masuk ke kamar dia.”“Ya nggak tahu juga tante, sejak kecil kan saya ga boleh masuk ke kamarnya natu, emang ada apanya sih tante ?”“Ya makanya kamu ke atas gih, cari tahu sendiri.”“Ya udah tante Kitara ke atas dulu ya.”“Iya.” Kemudian mama Natu kembali ke dapur.Kitara hanya menatap kosong kamar Natu, ia menatap sekeliling kamar. Dan mengejutkan, banyak lukisan maupun sketsa dirinya terpampang di dinding. Serta sebuah kertas panjang bertuliskan “ “ mungkin inilah sebabnya mengapa 4 tahun terakhir ini, Natu tak memperbolehkan Kitara masuk ke kamarnya lagi. Ia begitu marah jika bibi ataupun ibunya mempersilahkan Kitara masuk ke ruang pribadinya ini. Kitara begitu terkesan dengan tempat ini, dan matanya tertuju pada pojok ruangan yang terdapat meja belajar natu, begitu banyak lembaran Kertas yang berserakan di atas meja. Dan ia membaca salah satu dari lembaran itu.26 Januari 2005, 01.28 WIBAku tak merasa KALAH dalam penantian ini.Aku hanya merasa LELAH yang teramat sangat..!Setelah mengurung hatiku,Dalam cinta yang tak pernah TERJAWAB.Aku seperti tertusuk duri yang tak pernah ku sadari....Seberapa dalam meninggalkan LUKA PERIH.Menikmati sakitnya hingga tak terasa lagi,LUKA TELAH MENGALIR DARAH.Begitu dalamnya cinta, menghujam .Hingga ku tak bisa lagi membedakan,Mana TANGIS dan mana TAWA.Dua-duanya telah menjadi satu dalam butiran nelangsa.Terbata dalam Kata, tertatih dalam jejaknya.Dan tersia-sia... tanpa rekah bahagia.Aku mungkin belum KALAH...Tapi yang pasti aku mulai kECEWA...Membawa kakiku berjalan menjauh dari cintamu..Perlahan, tapi pasti...Tertahan, tapi tak punya dayaku untuk kembaliAku mungkin telah pergi...Tapi aku tak pernah berlari darimu... KITARA...!!Sebuah puisi untuk Kitara, matanya berkaca-kaca. Ia mulai sadar ada orang yang sungguh-sungguh mencintainya, dan pastinya rela melakukan apapun demi dirinya. Bukan sosok yang hanya hadir di saat ia membutuhkan Kitara. Kemudian matanya tertuju pada kalender yang berdiri tegak di samping komputer Natu, ada sebuah catatan kecil bertuliskan : 26 April, nembak Kitara. Taman merpati. Keep fight !!Kitara keluar dari kamar Natu dengan tergesa. Dengan kaki seribu ia menuju taman merpati. Rintik-rintik hujan tetap membasahi tubuh mungil Kitara. Disana ia mendapatkan sosok yang ia cari, ia tengah duduk tertunduk dan membiarkan tubuhnya basah kuyup oleh air hujan. Dengan setengah berlari Kitara menghampiri sosok itu.“Heh bodoh !! ngapain masih disini ?” ucap Kitara.“Pergi loe dari sini ! gue ingin sendiri.” Jawab Natu ketus.“Sendiri ? bukannya loe disini mau nungguin gue ? terus kenapa baru sekarang loe mau nyatain cinta loe ke gue ?”“Maksud loe ?” tanya Natu dengan terperangah.“Tadi gue masuk ke kamar loe dan gue lihat agenda loe, hari ini loe mau nembak gue kan ?”“Apa ? loe masuk ke kamar gue ?”“Iya. Emang kenapa ? gue udah tahu kok semua. Banyak juga loe ngoleksi foto-fato gue. Emang sejak kapan loe naksir gue ?”Mendengar ucapan Kitara, Natu terlihat salah tingkah. Dengan malu-malu ia berkata.“Ogah ah, gue nggak jadi nembak loe.” Natu berdiri dan berniat pergi dari tempat ia duduk.“Kok gitu ?” Kitara mengikuti langkah Natu.“Karena loe udah buat gue masuk angin !” ucap Natu sambil berlari.“Apa ??” Kitara pun mengejar Natu.“Gue udah nungguin loe lamaaa... banget !”“Itu sih salah loe. Udah tahu hujan, masih aja nungguin gue kayak orang gila.”Lalu Natu berhenti dan menebarkan biji-biji jagung ke tanah, serempak merpati yang sedari tadi meneduh dan menyaksikan drama reality antara Natu dan Kitara pun turun dari peraduannya.“Iya, gue gila karena loe Kitara !! gue rela nunggu loe hampir 4 tahun dengan harapan loe bisa nerima gue, bukan hanya sebagai abang loe, tapi lebih dari itu. Gue sayang sama loe Kita. Gue rela hujan-hujan gini nunggu loe, gue rela tengah malem harus bangun cuma buat loe curhat masalah Dega, gue rela kalau loe pergi sama Dega sementara gue cuma bisa nunggu loe di mobil, gue rela ngelakuin apapun buat loe Kit. Tapi satu hal, gue nggak rela kalau loe nangis Cuma gara-gara Dega. Dan di saksikan puluhan merpati ini gue mau bilang.. loe mau nggak jadi cewek gue ?”Natu sengaja melempar biji-biji jagung dengan melingkar. Dan merpatipun melingkar diantara mereka."Gue baru sadar, loe bukan hanya teman, sahabat, tetangga, abang atau supir gue sekalipun. Loe lebih dari semua itu. Gue juga sayang sama loe.. Nat. Gue janji, sekarang gue bukan Kitara yang dulu, yang rela nangis untuk orang yang nggak penting, yang nggak patut untuk di pertahanin. Semua udah selesai, nggak ada guna buat di sesali. Yang ada hanya terus melangkah ke depan tanpa melihat kebelakang. Dan loe juga harus janji sama gue, hari ini dan seterusnya loe akan jadi yang terakhir dalam hidup gue, buktiin kalau penatian loe selama ini nggak sia-sia.” Jawab Kitara panjang lebar.“Gue janji dan gue penggang janji loe!” JNatu dan Kitara pun berpelukan dan mengikat janji berdua dalam lingkaran merpati.(Jjiahh,, sok sweet) >.<Namun spontan Natu melepaskan pelukan Kitara, Kitara kaget dan merpati-merpati itupun ikut kaget dan langsung berterbangan sesukanya.“Terus Dega gimana ? bukannya loe tadi ketemuan sama Dega, loe nggak balikan kan sama dia ?” tanya Natu penuh curiga.“emm...”“loe nggak ngeduain gue kan ?” tanya Natu.“nggak janji dehhh !!” ucap kitara kemudian berlari.-TAMAT-
Rabu, 07 Maret 2012
-LINGKARAN MERPATI-
Labels:
cerpen
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



2 comments:
wakeehhh behhh..... :)
tapi aku suka..... :P
hahaha.. makasii makasii :*
Posting Komentar