skip to main |
skip to sidebar
SEBUAH PENENANG SAAT TERJAGA
Aku masih merasakan udara yang sama. Masih berdiam
ditempat yang sama. Tapi yang kurasakan tak lagi sama, kesunyiaan ini
bernama tanpamu.”
Sebenarnya, aku tidak pernah ingin semuanya berakhir. Saat
semua terancang dengan hebat dan sempurna, saat perhatian-perhatian
kecil itu menjelma menjadi candu rindu yang menancapkan getar-getar
bahagia. Tapi, bukankah prediksi manusia selalu terbatas?
Aku tidak bisa terus menahan dan mengubah sesuatu yang mungkin memang
harus terjadi.
Tidak dipungkiri dan aku tak harus menyangkal diri, bahwa selama rentan waktu tanpamu, aku merasa ada sesuatu yang hilang.
Ketika pagi, kamu menyapaku dengan lembutnya. Saat siang, kamu
sekedar mengingatkan untuk tidak terlambat makan. Saat sore, kamu
menyapaku lagi, bercerita tentang hari-harimu, lelahmu dan bahagiamu
pada hari itu. Saat malam, kamu menjerat pikiranku untuk berfokus pada
suaramu yang mengalun lembut melewati lempengan-lempengan dingin
handphoneku. Dan aku rindu, rindu semua hal yang bisa kita lalui hingga terasa waktu terlalu cepat berlalu saat kita melaluinya bersama.
Dan, akhirnya perpisahan itu tiba. Sesuatu yang selalu kita benci kedatangannya tapi harus selalu kita lewati tanpa kita tahu kapan itu akan terjadi. Kita bahagia dalam jalan kita masing-masing. Kamu berpegang pada prinsipmu, aku berpegang pada perasaanku.
Semua berjalan dengan cepat. Sapa manjamu, tawa renyahmu, cerita lugumu, dan segala hal yang membuat otakku penuh karenamu. Dan, aku harus membuang dan menghapus itu semua dari memori otakku agar kamu tak lagi mengendap-endap masuk ke dalam hatiku, lalu membuat kenangan itu menjadi nyata dan kembali menjadi realita. Selamat menemukan jalanmu. ..aku bahagia melihatmu bahagia
0 comments:
Posting Komentar