Disebuah ruang kelas, aku ditemani beberapa novel milikku duduk sendiri tanpa teman. Itulah keseharianku sendiri dan sendiri. Namaku Reandra Dhenishwary, Saat ini aku bersekolah di SMA Negeri 2 Malang kelas XI. Aku siswi pindahan dari Bandung. Orang tuaku yang asli Bandung dipindah tugaskan ke Malang tapi ada alasan lain mengapa saat ini aku berada di Malang. Sifat acuh dan dingin membuatku tak mempunyai teman, sifat yang terbentuk karena masa laluku, disamping itu aku memang kurang bisa bergaul dan bersosialisasi dengan teman.Di kelas lain Anggara Winata, seorang cowok idaman cewek seantero sekolah. Ia adalah anak kelas XII IPA 2. Prestasinya cukup membanggakan mulai dari peraih juara ll KIR Kimia Se-SMA Malang, juara I basket tingkat SMA Se-Jatim, dan masih banyak lagi prestasi-prestasi yang diraihnya. Selain ketua Ektrakulikuler basket ia juga seorang ketua OSIS di sekolahnya. Angga adalah temanku satu-satunya disekolah dan di rumah karena kami tinggal sekompleks. Aku bertemu dengannya 2 minggu sebelum aku pindah sekolah ke Malang.****
Setelah memberesi barang-barang , iseng aku jalan-jalan di sekitar kompleks rumah baruku. Sampai di taman sekaligus lapangan berbagai olahraga, tanpa disengaja bola yang dimainkan Angga mengenai salah satu kakiku yang menyebabkan aku jatuh tertelungkup disamping selokan. Dengan wajah penuh emosi aku berkata padanya.“Rese banget sih, loe nggak punya mata ya? Kalau nggak bisa main, nggak usah sok-sok-an main deh, bikin celaka orang aja tau nggak!,” bentakku.“Sorry-sorry gue nggak sengaja,” jawab Angga.“Nggak sengaja-nggak sengaja, gampang banget ya bilang maaf!,”Tiba-tiba tanpa permisi Angga meninggalkanku dan menghampiri seorang tukang es di seberang jalan. Ia berbalik dan menghampiriku dengan membawa 2 ice cream rasa coklat.“Nih, ice cream buat elo, biar ademan,” ucap Angga dengan memberikan 1 ice cream ditangannya.“Nggak perlu , makasih,”Aku bergegas pergi, tapi sebelum pergi buru-buru Angga menarik lenganku dan mengajakku duduk dibawah pohon cerry yang agak lebat.“Duduk dulu deh! Tapi beneran tadi gue nggak sengaja. Nih nggak usah malu-malu rasa coklat manis kayak elo,”Angga memberikan 1 ice cream untukku. Dengan rasa terpaksa dan emosi yang masih ada aku mengambilnya.“Terus sekarang mau elo apa?,” tanyaku.“Ya gue nggak bisa donk ngebiarin elo pergi dengan emosi kayak gini, ntar bisa- bisamobil elo makan lagi,” Canda Angga tapi aku hanya menyunggingkan bibir senyum ejekan.Sejak saat itu aku dan Angga sering bertemu dan latihan bersama, itulah awal pertemuan kami sampai akhirnya kami mengetahui bahwa kami satu sekolahan. Di sekolah kami sering bertemu, apa lagi kelasku dengan lapangan basket cukup dekat. Bagi Angga lapangan basket adalah kelas kedua setelah ruang kelasnya. Hampir setiap hari sepulang sekolah Angga selalu menyempatkan untuk latihan basket sekaligus melihat apa yang ku lakukan sebelum pulang sekolah. Tak jarang Angga mengantarku dan melupakan latihan basketnya sejenak.****Hari ini Angga tidak ada latihan basket, sepulang sekolah ia berniat mengajakku sekedar berjalan-jalan dan mencari buku. Sebenarnya bukan itu saja, ia juga ingin melihatku tersenyum lagi dan membuatku ceria seperti dulu. Mungkin dengan mengajakku jalan-jalan aku bisa sedikit melupakan kisah 3 bulan yang lalu. Aku memang mempunyai sedikit kenangan hitam.3 bulan yang lalu, Akbar pelabuhan pertama hatiku meninggal karena kanker liver yang dideritanya. Aku pun sama sekali tak mengetahui tentang hal itu. Itulah sebabnya mengapa aku sekarang menjadi sosok yamg dingin dan acuh. Aku begitu menyesal karena aku merasa belum memberikan kenangan terindah untuk Akbar. Sosok yang selalu menjaga dan melindungiku. Sosok yang menjadikanku dewasa dalam menyikapi segala hal dan mencintaiku setulus hati. Aku hampir depresi karenanya. Sampai akhirnya orang tuaku memutuskan untuk meninggalkan Bandung dan memilih Malang untuk tujuan tempat tinggal. Selain tuntutan kerja, menurut orang tuaku Malang bisa membuang jauh kenangan-kenangan tentang Akbar.Angga berhasil mengajakku jalan-jalan. Mulai dari memohon, memelas sampai berlutut ia lakukan untuk membujukku. Aku sedikit bisa melupakan masalahku walaupun hanya sebentar. Hari ini sangat menyenangkan bagiku. Keangkuhan dan keacuhanku sirna setelah aku dekat dengannya. Aku lebih bersikap dewasa dan ceria, itu semua berkat Angga. Aku juga merasakan suatu rasa yang tak ku mengerti maksudnya.“Thank’s ya udah dianterin,” ucapku.“Ya...elah, nggak disuruh masuk nih?,”canda Angga.“Eh, iya...iya masuk aja,”jawabku gelagapan.“Nggak bercanda doank kok,” Setelah berkata seperti itu Angga tidak langsung pulang. Ia malah senyum-senyum melihatku.“Mau apa lagi loe, udah sana!!!,” bentakku sambil bercanda.“Iya..iya, elo cakep deh Re...,”ucap Angga langsung tancap gas. Aku hanya senyum sambil masuk ke rumah.Besok adalah ulang tahunku yang ke-17. Dan Aku berharap Angga tak lupa dengan itu.****Teet...... teet.... teet...Bel sekolah berbunyi, menandakan pelajaran telah usai, siswa-siswi mulai berhamburan keluar dari ruang kelas masing-masing, tapi sampai saat ini aku masih belum melihat Angga, sekalipun di ruang kelasnya, ia juga tidak datang ke lapangan basket.Hari ini langit tampak mendung, begitu juga dengan hatiku, gelisah menyelimuti hatiku entah kenapa hari ini aku ingin segera sampai dirumah.Berbeda dengan Angga, hatinya begitu berbunga- bunga. Rencananya hari ini ia akan menyatakan perasaanya kepada Rere, sengaja ia menghilang dan itu adalah skenarionya, sebenarnya Angga ingin menyatakan cintanya dirumah sakit. Pura-pura kecelakaan dan penuh dengan deraian air mata Rere, tapi itu terlalu sadis menurutnya kemudian ia memutuskan untuk langsung datang dan menyatakan tepat di rumahnya, mungkin agak gila tapi tak apalah.****Sepulang latihan basket di lapangan lain, Angga berniat langsung kerumah Rere , di perjalanan menuju rumah Rere ia terlihat tidak tenang. Entah kenapa bola yang di bawanya, tiba –tiba jatuh ke jalan raya tanpa hati- hati Angga mengambilnya. Tanpa sadar ia.....AAARGH... BRRAAKKKKK.Sebuah bus antar kota sudah berada di belakangnya, tanpa sempat menghindar ia tertabrak dan terlempar sejauh 12 meter. Bunga, kado, coklat tetap di sampingnya lengkap dengan darah segar yang berceceran di atasnya.Jelas Andrew, sahabat Angga yang mengetahui kronologi kejadiaannya.“Sabar ya Re.., sekarang Angga sudah tenang disana, elo harus bisa mengikhlaskannya” ucap Andrew.Mendengar itu aku makin histeris, “Ini nggak adil Drew kenapa Tuhan selalu mengambil orang yang selalu gue sayang,”“Re..., Angga pernah nitip ini buat elo, Angga pesen kasih ini kalau dia udah nggak disini gue sendiri juga nggak mengerti maksudnya,” kemudian Andrew memberiku satu amplop.Ku buka pelan amplop itu dan ku baca perlahan tulisan tangan Angga.Dear Reandra dhenishwary‘Sesuatu yang sudah jauh itu akan terasa indah, Tapi alangkah lebih indahnya lagi kalau kita bisa memandang apa yang sudah ada di depan kita dengan lebih indah. Ingatlah kata pepatah tiap kehidupan ada yang datang dan ada yang pergi, itulah warna kehidupan.’Terus semangat ya Re.Anggara winata****1 bulan kemudian.....Setelah membaca beberapa halaman novel milikku, aku ragu untuk meneruskan bacaannya. ku mulai melamun... dan tetes air mata jatuh membasahi pipi, ku teringat akan masa laluku kenangan hitam yang berkecamuk di hatiku. Aku kembali menjadi Rere yang dulu, dingin dan acuh. Ku merasakan kekecewaan yang teramat sangat hingga aku benar- benar terpukul dengan kepergian Angga. Haruskah aku meninggalkan Malang dan melupakan semua kenangan indah bersama Angga? Aku benar- benar tidak tahu, air mataku semakin deras membasahi pipiku.Orang tuaku sepertinya juga mulai binggung dengan sikapku. Mungkin mereka berfikir apa yang harus dilakukan untuk anak semata wayangnya ini.Tapi kini aku sadar, aku harus bangun dari keterpurukan yang aku ciptakan sendiri, keterpurukan yang akan kenyataan yang telah terjadi, aku paham sekarang bahwa cinta belum mati, bunga cinta yang telah terpetik kini akan tumbuh kembali.Tentu saja dengan warna serta harum yang makin menawan, walau aku tahu tidak mudah melupakan kenangan bersama Angga dan aku harus berjuang keras untuk itu.Bukankah Tuhan menciptakan cinta untuk mewarnai dunia, bukan untuk menyakiti umatnya. Karena tak mungkin tak ada seorangpun yang tak pernah mencintai atau di cintai. Aku yakin suatu saat nanti akan datang seseorang yang tepat dan yang akan mendampingi hidupku kelak. Semuanya aku serahkan kepada Tuhan karena hanya dialah yang lebih mengetahui mana yang terbaik untukku.****2 tahun kemudian......Kini aku telah lulus dari SMA Negeri 2. Aku mendapat predikat lulusan terbaik di Malang oleh kerena itu aku diterima di Universitas Negeri di Malang tanpa test di jurusan Kedokteran Universitas Brawijaya.Setelah siap untuk berangkat kuliah, tiba-tiba handphone ku berdering.“Pagi, sayang aku jemput sekarang ya...?,”suara diseberang telepon.“Iya,” jawabku singkat.Tak lama kemudian terdengar suara klankson sepeda motor. aku berlari menuju pintu gerbang.“Lho...kok? kenapa nggak bilang kalau udah disini?,” tanyaku kepada cowok yang duduk diatas sepeda motor. Ia adalah pelabuhan cintaku yang kesekian kalinya, Putu Andrea Dio Sintera. Cowok asli Bali super galak yang menjadi seniorku yang dari awal kuliah sudah membuat kesal hatiku karena tingkahnya yang selalu memojokkanku, tapi sekarang malah menjadi pujaan hatiku.“Kan suprisse,”jawabnya singkat.“Dasar!! Ya udah berangkat sekarang yuk!!,” ajakku.Sepanjang perjalanan aku memeluk Dio dengan sangat erat dan aku berharap agar Tuhan tak mengambil orang yang aku cintai lagi, seperti dulu. Sampai di kampus Dio langsung mengantarku ke kelas.“Selamat belajar sayangku, love you,” ucap Dio.Aku hanya tersenyum melihat tingkah Dio dan aku mencium tangan Dio sebagai balasan perpisahan.Hari- hari selalu kami lewati seperti itu, canda tawa slalu ada dalam kehidupan kami, tak ada pertengkaran serius karena setiap ada perselisihan dia selalu mengalah, dan itu salah satu alasan mengapa aku tak bisa marah padanya.****Hingga suatu hari peristiwa penting terjadi di hari ulang tahunku, peristiwa yang tak akan pernah aku lupakan dalam hidupkku. Hari itu hari ulang tahunkku, entah kenapa hatiku berdegup, ada perasaan aneh yang menyelimuti hatiku, terlebih lagi Dio yang selalu menelponku setiap pagi tak lagi menelponku seperti hari-hari biasa. Ada apa dengannya??? pikirku. Ku coba untuk menghubunginya tapi handphone nya tidak aktif, dan aku semakin bingung, akhirnya ku putuskan untuk menelpon kost-an nya, tapi tak ada yang mengangkat. Perasaanku semakin tak menentu. Takut, gelisah bercampur menjadi satu. Karena sudah siang ku putuskan berangkat kuliah sendiri.Ketika di kelas pun tak ada satupun pelajaran yang masuk ke otakku, pikiranku terus terlintas pada sosok Dio, ada apa dengannya??Kenangan tentang Akbar dan Angga kembali muncul, mungkinkah Tuhan akan mengambil orang yang ku sayangi lagi...???. Akhirnya kuliahku berakhir juga kuputuskan untuk meninggalkan kampus ini secepatnya, ku langkahkan kaki menuju kost-an Dio, aku berharap semoga ia baik-baik saja. Dipertengahan jalan aku tiba-tiba handphone ku berdering lagi segera ku angkat berharap itu dari Dio. Namun sayangnya muncul satu nama “ home” di handphoneku.“ Hallo,” jawabku.“ Re... dimana? Cepet pulang mama tiba-tiba pingsan??,” kata orang di seberang telepon.“ Ini Dio kan ???!!,“ tanyaku.“ Ya...ya ini aku cepetan ya ???,” katanya.Segera ku masuk ke taxi,“Perumaham Permata Asri No. 10 cepetan ya pak !!,” pintaku.“Baik Non,” jawabnya.Taxi itu melaju dengan sangat cepat dan 15 menit kemudian aku sampai di rumah, ku lihat mobil berjajar di depan rumahku, keadaan ini semakin aneh karena tak biasanya seperti ini. Maklumlah kompleks Perumahan ku sangatlah sepi karena kebanyakan pemilik rumah di kompleks ku tinggal di luar kota karena faktor pekerjaan. Mereka menghuni rumahnya ketika weekend.Ku langkahkan kaki masuk ke rumah dengan hati bertanya-tanya. Sampai di depan pintu ku lihat tubuh seorang tertidur di ruang tamu dengan segerumbulan orang mengelilinginya, ku coba untuk menerobos dan itu adalah Dio dengan darah yang sudah kering di kepalanya.Ini semakin membuatku binggung, bukankah tadi dia baru menelponkku dan menyuruhkku segera pulang karena mama tiba-tiba pingsan. Lalu siapa yang kini ada di hadapanku ini?“Masihku tak percaya benarkah ini Dio? Lalu siapa yang menelponku tadi??,”gumamku.“Diioo.... bangun aku nggak mau kamu pergi, aku nggak mau kehilangan orang yang aku sayang lagi, banguuunn...... please Yoo... bangun,” teriak ku histeris.Kupukul-pukul tubuhnya berharap dia bangun, tapi tak sedikitpun ada respon darinya. Sampai akhirnya aku putus asa dan berhenti berharap.Tak lama kemudian tiba-tiba terdengar ”Aku tak kan tega meninggalkanmu sayang, aku masih disini untukmu,” kata-kata keluar dari mulutnya.Aku tercengang melihatnya, ia berdiri memelukku, dan kemudian terdengar suara...“ Happy birthday to you happy birthday to you happy birthday happy birthday happy birthday to you,” teriak teman-temanku berbarengan.“Maafin aku ya yank, sudah membuatmu menangis aku cuma mau kasih suprisse buat kamu, aku harap kamu nggak marah,”“Makasih yank untuk suprise nya,” hatiku legaKupukul dia untuk yang kesekian kalinya, lalu peluk erat. “Tapi lain kali jangan seperti ini karena aku takut ini bener-bener terjadi suatu saat nanti, ““Ya ya ya... janji nggak lagi, swear...!! ”Hari itu Dio menyatakan keseriusanya padaku di depan teman-teman dan orang tuaku. Hari itu menjadi hari paling bahagia dalam hidupku, terima kasih Tuhan telah kau ciptakan dia dan pertemuan kami.Besoknya aku datang ke makam, tempat abadi untuk Angga. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya saat aku mengunjungi makam Angga, bukan untuk menyesali dan menangisi yang telah terjadi tapi kini dengan adanya Dio disampingku, kucoba menahan air mataku dan tersenyum. Ku taburkan bunga diatas makam Angga.“Makasih ya Ngga atas pesannya. Pesan itu yang membuatku bangkit dari keterpurukkan ini. Makasih juga buat...,” ku terdiam sesaat, tak kuat untuk berbicara. Dio menggenggam erat tanganku saat air mataku mulai jatuh.Ku teruskan kata-kataku “Pengorbanan elo...,”Tetes-tetes air mataku mulai berjatuhan. Dio memelukku dan kumenangis di pelukkannya. Dalam hati ku berbicara.“Angga, elo mungkin cinta sejati gue, tapi bolehkah Dio mengganti posisi elo dihati gue?,” tanyaku dalam hati pada Angga walaupun itu tak mungkin, tiba-tiba dalam otakku terbesit bayangan Angga. Ia tersenyum melihatkku dan Dio. Mungkinkah ia menyetujuinya? Entahlah...Sekarang aku mengerti, setiap orang pasti mempunyai masalah akan kenangan masa lalunya namun kehidupan akan terus berjalan, dan sesuatu akan indah tepat pada waktunya tergantung bagaimana cara kita menghadapinya.****
Senin, 12 Maret 2012
INDAH PADA WAKTUNYA
Labels:
cerpen
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 comments:
Posting Komentar